Sang Puan yang Berisik.

Aku membenci para munafik yang seolah tersenyum memandangku tetapi memegang belati di balik punggungnya dan bersiap menikamku.
Aku muak dengan para bangsat yang bertopeng seperti pahlawan tapi matanya hijau saat mulutnya disumpal uang, pantatnya diberi bangku yang nyaman.
Aku jengah dengan semua kepalsuan para penguasa yang seolah berdiri untuk kaum tertindas, namun ketika para pengecut, sanak saudara yang bersembuyi di balik jas keluarga yang katanya penguasa itu mulai menindas, mereka mulai berperan seperti Tuhan yang menyelamatkan para pendosa. Ah bukan, nyatanya mereka adalah budak dosa yang memanjakan para pendosa dan memujanya tinggi-tinggi.

Aku marah.
Perasaan yang sudah lama kuabaikan.
Perasaan yang bertahun-tahun ini rasanya telah dapat kukendalikan.
Tapi ketidak-adilan di depan mata ini membuat AMARAH ini tidak bisa kuredam lagi.
Ini yang kutakutkan ketika aku marah, saat aku KEHILANGAN RASA TAKUTKU!

Kepalaku tiba-tiba sangat bising, berisik dan menuntut.
Semua suara-suara itu tidak bisa kuredam.
Aku berusaha mengepalkan tangan sekeras mungkin, tapi suara2 itu menuntut tinju yang lebih.
Namun samar-samar kudengar suara lain berbisik untuk berhati-hati dan bersikap bijaksana.
Ia berkata bahwa membunuh tidak selalu hanya dengan pisau dan kekerasan.

Aku terdiam. 
Aku memilih untuk mendengarkan kebisingan itu satu persatu.
Aku mencoba memberikan ruang untuk setiap tuntutan-tuntutannya.
Aku membiarkannya bising dan berisik sejadi-jadinya, semau-maunya. 
Aku kemudian belajar menikmati kebisingan itu.

Tadinya aku mencoba mencari orang untuk menghilangkan kebisingan di kepalaku ini.
Namun sepertinya kebanyakan mereka hanya suka mengambil bagian jadi penonton daripada turut serta dalam kebisingan ini. 
Sepertinya  mereka sangat menikmati peranku yang berkelahi dengan semua kebisingan ini.
Sementara orang-orang yang mengasihiku, tidak dapat menyentuhku dengan api yang sudah menguasai tubuhku.
Mereka akan terluka jika mereka mendekat, saat ini apinya sedang sangat membara.
Sungguh, aku benci jika harus selalu sendiri saat menghadapi sisi tergelap diriku.
Namun nyatanya, tidak semua orang ditakdirkan berjalan dalam gelap. Jika aku memaksa, mereka akan tersesat di duniaku yang gelap. 
Tidak semua orang punya daya tahan yang sekuat itu dalam menghadapi penderitaan.
Biarlah, biarlah jika memang hanya aku sendiri yang ditakdirkan melaluinya. 

Toh pada akhirnya aku yakin menang. 
Sudah lama aku mendapati bahwa dalam panggung kehidupan, aku bukanlah si jagoan yang andal dalam menyerang, tapi belum pernah sekalipun pertahananku dihancurkan dan dibobol oleh penderitaan. Jangan bicara penderitaan denganku, atau aku akan menertawakanmu.
Entah kenapa, sepertinya karunia terbesar dalam hidupku adalah daya tahan terhadap penderitaan, rasa-rasanya tamengku sangat kuat. 
Aku pernah terluka di sana-sini, tapi aku tidak pernah mundur atau menyerah.
Para bajingan dan ketidakadilan itu tidak akan pernah bisa menikam jantungku, 
bahkan melumpuhkankupun tidak!

Tamengku terlalu kuat untuk mereka tembus.
Tidak mungkin, dan tidak akan pernah bisa!

Jika para penonton menantikan peperangan antara diriku dan suara-suara berisik di kepalaku,
MAAF, aku akan mematahkan ekspektasi mereka!
Aku akan menari dengan indah, diiringi suara-suara berisik itu.
Aku akan menjadikannya kecamuk melodi yang kacau, mistikal, memikat dan menghancurkan pendengarnya. 
Aku akan mempersembahkan kolaborasi terbaik antara diriku dan sisi tergelapku.

Akan kubiarkan suara-suara berisik itu mengambil ruang dalam diri ini, 
Akan kuberikan kesempatan bagi mereka untuk berteriak sekencang-kencangnya, hingga para bedebah itu tutup telinga dan menyerah!

Aku sang puan yang berisik!

Comments

Popular posts from this blog

Bongkahan Hati yang Ternyata Tidak Pernah Hancur

AKU MASIH DI LINGKARAN YANG SAMA

Tentang Pria yang Sama