Sang Puan yang Berisik.
Aku membenci para munafik yang seolah tersenyum memandangku tetapi memegang belati di balik punggungnya dan bersiap menikamku. Aku muak dengan para bangsat yang bertopeng seperti pahlawan tapi matanya hijau saat mulutnya disumpal uang, pantatnya diberi bangku yang nyaman. Aku jengah dengan semua kepalsuan para penguasa yang seolah berdiri untuk kaum tertindas, namun ketika para pengecut, sanak saudara yang bersembuyi di balik jas keluarga yang katanya penguasa itu mulai menindas, mereka mulai berperan seperti Tuhan yang menyelamatkan para pendosa. Ah bukan, nyatanya mereka adalah budak dosa yang memanjakan para pendosa dan memujanya tinggi-tinggi. Aku marah. Perasaan yang sudah lama kuabaikan. Perasaan yang bertahun-tahun ini rasanya telah dapat kukendalikan. Tapi ketidak-adilan di depan mata ini membuat AMARAH ini tidak bisa kuredam lagi. Ini yang kutakutkan ketika aku marah, saat aku KEHILANGAN RASA TAKUTKU! Kepalaku tiba-tiba sangat bising, berisik dan menuntut. Semua suara-suara i...