Bongkahan Hati yang Ternyata Tidak Pernah Hancur
Januari 2023
Denver, Colorado, Amerika Serikat.
Ya, aku berada di negeri yang sangat jauh sekali. Meninggalkan Indonesia melewati Samudera yang sangat luas dan benua yang tak terhingga besarnya, dengan harapan aku akan bisa meninggalkan semua kenangan tentangnya di sana.
Aku tidak pernah menyangka bahwa aku akan berlari sejauh ini untuk melupakan seseorang dan berharap menemukan sesuatu yang baru. Tiga tahun berlalu begitu saja sejak aku tinggal dalam sepi meski di keramaian. Aku kira ini akan dengan mudah berlalu seperti penghiburan orang-orang. Aku kira mudah untuk menemukan "orang yang tepat" dalam versiku, yaitu mencintaiku dan aku mencintainya. Ternyata tidak mudah.
Bukan tidak ada yang menunjukkan perhatiannya padaku. Aku tersanjung? Ya, untuk sesaat, lalu setelahnya aku bosan. Bukan tidak ada yang kuperhatikan dan kuinginkan, tetapi sepertinya mereka tak menginginkanku. Haha. Sesulit itu ternyata untuk menemukan pasangan yang saling mencintai. Lagi dan lagi hati ini sepi untuk kesekian kalinya.
Aku terlalu bersemangat untuk menemukan orang baru dengan harapan bahwa aku akan menghilangkan jejak seseorang yang pernah singgah dan menitipkan bongkahan kasihnya dalam hatiku. Aku sudah melewati banyak hal selama tiga tahun ini. Aku sudah marah, aku sudah menangis hingga puas, aku sudah mencoba menerima orang lain yang memperlakukanku bak ratu dan memahamiku dengan baik, aku sudah berjuang memberikan perhatian kembali kepada seseorang itu, lalu kusadari itu bukan cinta kasih, itu welas asih. Aku bahkan menjebak diriku dalam kegiatan-kegiatan yang melelahkan badanku, berjuang 'baik-baik saja', tertawa dimanapun aku berada, membawa sukacita kepada orang-orang yang kujumpai, lalu diam merana dan mengalami kekosongann ketika kembali ke rumah. Aku yang tak bisa sendiri mulai menikmati kesendirianku dengan ponsel di depan mata sepanjang hari yang kujadikan sebagai pelampiasan atas kepenatan yang kurasakan, yang tidak kutahu darimana asalnya.
Pada akhirnya aku menjadi jarang marah, menyenangkan semua orang, malas berdebat, tidak suka terlibat dalam kehidupan orang lain terlalu dalam, peduli namun tidak peduli, entahlah, seperti ada yang kosong di sini, ya! di hatiku.
Hampa.
Aku merasakannya dalam waktu yang sangat lama, sampai aku tidak tahu lagi bagaimana rasanya.
Aku mencoba mengisinya dengan bermain, bersenang-senang, tertawa bersama orang lain, dan menghabiskan waktu di luar rumah. Namun hampa selalu kembali setelah semua permainan itu usai. Aku tidak menemukan seseorang yang bisa mengisi ruang kosong itu. Hingga terkadang aku berontak dan mencoba sebisanya bergaul dengan siapapun. Tapi ada banyak hal dalam dunia ini yang tidak bisa dipaksakan.
Aku menenggelamkan diri dalam tumpukan tugas dan pelajaran di sini. Di sini aku mencoba untuk menikmati kesendirianku, mencoba jujur terhadap hatiku, mencoba untuk memulai lagi melakukan hal-hal yang kuinginkan dan menemukan yang kusukai. Namun tentu saja tidak semudah itu. Semuanya butuh proses.
Di 2023 ini, di Amerika ini.
Aku harus jujur, kekosongan itu bukan karena bongkahan yang lalu sudah hilang atau hancur, karena aku masih menemukannya di sana, di tempat yang sama dengan kondisi yang utuh. Aku selalu membawanya kemanapun aku pergi. Amerika-Indonesia di musim dingin dengan perbedaan waktu 13-14 jam ini ternyata tidak membuatku melepaskan bongkahan itu. Dia masih tetap di sana, utuh, tidak terpecah atau tergores sedikitpun. Yang membuatnya terasa kosong adalah mataku yang kututup erat-erat dan tidak mau memanipulasi diri bahwa bongkahan itu telah pecah berkeping-keping 3 tahun yang lalu.
Menikmatinya.
Ya! Aku mungkin harus menikmatinya dan tidak memaksakan diri mencari sesuatu yang baru yang lebih baik dari ini, memaksakan orang lain masuk demi pemenuhan ego. Aku harus menyadarinya, menerimanya dan menikmatinya. Dan ya, mungkin aku harus mengakui bongkahan itu masih ada, dan akan selalu ada. Aku tidak akan menghindar lagi dan mengakuinya, sekalipun orang akan berkata aku bodoh, tapi membohongi perasaan jauh lebih menyiksa daripada menuruti ekspektasi orang lain.
Comments
Post a Comment