Terluka
Terluka di usia dewasa itu sangat menyakitkan ya.
Kita tidak lagi bisa melupakan dengan mudah seperti kita di kala belia.
Semakin hari, semakin banyak hal yang membuat kita enggan membuka asa.
Terluka saat dewasa benar-benar berbeda.
Ia bahkan datang dari rasa tidak menghargai.
Terkadang ingin mengasihi orang lain dengan tulus, tetapi oranglain malah menghancurkan dengan tidak menghargai semuanya.
Benar, sabar itu ada batasnya.
dan Toxic itu ga ada obatnya.
Kadang suka heran dengan orang-orang yang suka mengeluhkan orang-orang toxic di sekitarnya, namun nyatanya ia sendiri juga toxic.
Berekspektasi tinggi kepada orang lain untuk kebahagiaan dan cita-citanya.
Diberi nasihat tidak mendengar malah semakin meninggi.
Ketika kita merendahkan hati, eh malah semakin diinjak dan menyuruh kita melakukan hal-hal yang ga wajar.
Ingin memahami seberapa besar lukanya hingga ia terus berusaha melukai orang di sekitarnya, tapi aku terlalu takut untuk kembali terluka dengan sikap kasar dan toxic itu.
Aku bahkan kehabisan kata dan akal.
Memang benar, lari saja selagi bisa daripada berhadapan dengan orang toxic.
Ternyata toxic person semenyeramkan itu.
Aku yang keras kepala ini selalu membawa diri dalam pilihan yang salah. Tapi Tuhan baik, lagi lagi aku harus katakan ini, Tuhan baik.
Saat aku tanya Dia tidak pernah kasih petunjuk yang salah.
Aku aja yang selama ini keras kepala dan masih suka coba-coba ambil langkah di luar instruksiNya.
hahahaha.
Dunia ini terlalu berbahaya untuk di hadapi sendiri.
Namun lebih berbahaya saat bertemu orang yang tidak tepat.
Di saat begini semakin berpikir bahwa sendiri nyatanya lebih melegakan.
Tidak banyak orang baik dan tulus di dunia ini.
Sejak awal intuisiku sudah menangkap hal-hal yang ganjal, namun adrenalinku ambil kendali dan membawaku pada luka.
Aku terluka bukan karena aku menciptakan ekspektasi yang besar padanya, namun karena aku terlalu lelah untuk menghadapi kata-kata kasar, ketidak-mengertian, ekspektasi oranglain terhadapku dan ketidak-bersediaan menerimaku apa adanya.
Lelah?
Banget!
Sedih?
Iya!
Ga habis pikir, kenapa orang-orang masih terbelenggu dalam hal-hal seperti itu.
Kenapa mereka gabisa menghargai orang lain?
Kenapa orang-orang suka sekali menghakimi?
Kenapa orang-orang membenci pencapaian orang lain dan hanya peduli pada diri sendiri dan selalu menuntut kepada orang lain?
Tidak bisakah kita hidup untuk diri kita masing-masing?
Kenapa orang-orang masih membelenggu dirinya dalam iri hati, kemarahan, kekecewaan, dendam, sakit hati, kebencian, dan meneruskannya kepada orang lain?
Tidakkah mereka berpikir tentang kesakitan orang lain?
Dunia dan orang-orangnya terlalu jahat ya.
Ternyata ini yang membuat kita semakin sulit menemukan ketulusan dalam diri orang dewasa.
Yang cintanya tulus, yang perasaannya bersih, yang hatinya lurus, hanya satu diantara ribuan, dan entahlah itu akan menjadi bagian kita atau tidak, aku tidak tahu.
Aku menulis ini untuk melegakan rasaku. Entahlah apakah aku terlalu drama?
Mungkin, ya.
Tapi aku sudah mencoba sebisaku.
Aku mau berpikir positif, tetapi kesedihan terus melandaku dan mengganggu aktifitasku.
Kuharap ini segera berlalu. Aku ingin tenang dan bahagia menikmati hari-hariku.
Semoga aku dipertemukan dengan orang yang supportif dan bisa saling menghargai dan membahagiakan bersamaku.
Entah apakah Tuhan akan berikan kesempatan seperti itu lagi, atau tidak?
Entahlah, kemarin aku sudah cukup angkuh dengan menolak pemberianNya.
Akankah? Aku takut berharap, tetapi aku mau percaya. Apakah ini cukup Tuhan?
Comments
Post a Comment