Sebuah rasa bernama PENYESALAN
Hai,
Hari ini aku akan bicara tentang seseorang yang berbeda.
Seseorang yang tidak pernah kusangka akan membuatku benar-benar merasa kehilangan sekarang. Seseorang yang tidak pernah kusebutkan dalam tulisan-tulisanku sebelumnya. Seseorang yang pernah kecewa mengetahui bahwa tulisan itu bukan tentangnya. Ya, seseorang yang pernah menjadi jawaban doaku dari Tuhan dikala aku sangat terpuruk. Seseorang yang sudah berulangkali kuuji dari doaku, lelaki pertama dalam hidupku yang berkata "Aku sedang mendoakanmu". Seseorang yang sangat baik dan dikasihi Tuhan. Ya, aku sangat percaya Tuhan begitu sayang padanya. Dan hal terbodoh dalam hidupku adalah fakta bahwa aku menyakiti hati anak kesayangan Tuhan.
Setelah melepaskan dengan berbagai alasan, aku berharap bisa bahagia dalam kebebasan yang kuciptakan ini, tapi nyatanya kungkungan ini jauh lebih sempit dan mengkungkungku dengan lebih menyakitkan. Lebih menyedihkannya, sekarang aku terkungkung sendiri, tidak seperti yang lalu bahwa ada bahu seseorang yang selalu menawarkan kenyamanan sekalipun dalam kungkungan.
Jika aku mengingat kembali, itu pertama kali aku menyukai mata seorang pria. Aku menyukai suaranya saat pertama kali aku mendengar dia bernyanyi di pagi di hari minggu natal pemuda di Pulau Rupat. Aku menyukai caranya bicara padaku, sopan dan penuh perhatian. Aku suka caranya mendengarkanku dan merespon semua keluh kesahku dengan sangat dewasa. Aku suka saat dia dengan bangga membawaku kepada keluarga dan teman-temannya. Aku suka cara dia melindungi dan selalu ada bagiku saat aku membutuhkannya, saat aku terpuruk, saat aku menangis. Selalu bersedia memberikan telapak tangannya yang hangat saat aku perlu penguatan. Mungkin kebersamaan kami tidak lama, tetapi telapak tangannya adalah telapak tangan yang paling lama menggenggam tangan ini dengan penuh cinta. Dia terlalu sempurna sampai-sampai aku sering meragukannya.
Aku pernah mendamba sosok sepertinya, dan aku sangat terkejut menemukannya dalam hidupku, sampai-sampai aku terus-menerus mengujinya dan menguji hatiku. Dia terlalu sempurna untukku, sampai aku pernah berpikir bahwa dia memang diciptakan Tuhan untukku. Tapi di saat yang sama, pikiran bodoh, rasa takut, hasrat dunia akan kebebasan menyeretku kepada sebuah kata bernama
"PENYESALAN"
Sekarang, saat dimana aku benar-benar terpuruk dan terluka, aku stuck dalam masalahku dan menambahkan masalah-masalah baru dalam hidupku, aku sangat tahu dan sangat sadar bahwa aku membutuhkannya, sangat membutuhkannya sekadar hanya duduk di sampingku sambil mengusap airmataku dalam diam, seperti sebelum-sebelumnya. Sekarang aku sadar, Tuhan pernah memberikan kesayangannya yang sangat kubutuhkan, bukan yang kuinginkan. Dan kehilangan kebutuhan lebih menyakitkan daripada kehilangan keinginan.
Banyak penghiburan yang mengatakan, mungkin dia bukan yang terbaik dan tepat untukku. Aku berusaha mengamininya, tapi hatiku tak bisa berbohong bahwa aku telah melewatkan sesuatu yang benar-benar kubutuhkan.
Sekarang aku sadar, aku bersalah kepadanya dan aku berkhianat kepada Tuhan. Sedalam itu? Mungkin. Tapi di titik terrendah, kita baru sadar apa yang kita butuhkan. Lagi-lagi aku menemukan bahwa aku tidak bisa membuat keputusan yang tepat untuk diriku sendiri. Gabisa sih lari dari Tuhan memang, sebodoh itu kalau lari. 😂
Yasudahlah, semoga semua berbahagia.
Comments
Post a Comment